Sistem Kekerabatan dan Peranannya dalam Struktur Sosial Masyarakat Mandailing

Authors

  • Mukhlis Lubis Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan, Indonesia Author
  • Ali Padang Siregar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan, Indonesia Author
  • Muhammad Yusuf Ritonga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan, Indonesia Author
  • Andi Saputra Mandopa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan, Indonesia Author

Keywords:

Dalihan Natolu, Sistem Kekerabatan, Struktur Sosial, Mandailing, Kearifan Lokal

Abstract

Penelitian ini mengkaji sistem kekerabatan Dalihan Natolu dan peranannya dalam struktur sosial masyarakat Mandailing dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi. Dalihan Natolu—falsafah hidup masyarakat Mandailing yang terdiri atas tiga unsur: Mora (pemberi istri), Kahanggi (saudara semarga), dan Anak Boru (penerima istri)—menjadi dasar pengaturan relasi sosial, etika, dan kewajiban antar kelompok kekerabatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai filosofis Dalihan Natolu, menganalisis fungsinya dalam pengambilan keputusan adat, penyelesaian sengketa, serta pelaksanaan upacara daur hidup, dan menilai relevansinya dalam kehidupan masyarakat Mandailing masa kini.

Penelitian dilakukan di Kabupaten Mandailing Natal dengan melibatkan Namora Natoras, tokoh agama, dan generasi muda sebagai informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dalihan Natolu tidak sekadar menjadi struktur kekerabatan, tetapi juga pranata sosial yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat. Peran utamanya tampak dalam mekanisme musyawarah adat (martahi/marpokat), mediasi sengketa terutama terkait kewarisan, pelaksanaan upacara kelahiran, perkawinan, dan kematian, serta pembinaan harmoni sosial dan nilai keagamaan. Prinsip somba marhula-hula, elek marboru, dan manat mardongan tubu menjadi landasan etika sosial yang terus hidup, baik di kampung halaman maupun di perantauan.

Penelitian menyimpulkan bahwa Dalihan Natolu merupakan kearifan lokal yang tetap relevan dalam menjaga kohesi sosial masyarakat Mandailing di tengah perubahan sosial modern.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Harahap, B. (2010). Adat dan Budaya Mandailing. Medan: Pustaka Mandailing.

Harahap, M. (2015). Dalihan Natolu sebagai Sistem Sosial Masyarakat Mandailing. Padangsidimpuan: CV Mitra Mandiri.

Lubis, A. (2005). Sejarah dan Budaya Mandailing. Jakarta: Yayasan Mandailing Raya.

Nasution, D. (2005). Dalihan Natolu: Falsafah Hidup Orang Mandailing. Medan: Pustaka Wahana.

Nasution, M. (2012). Struktur Kekerabatan dalam Masyarakat Mandailing. Medan: Mandailing Research Press.

Nasution, P. (2014). Hukum Adat Mandailing dan Perkembangannya. Medan: Penerbit Darul Ilmi.

Siregar, H. (2016). Masyarakat dan Kebudayaan Mandailing: Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Ombak.

Situmorang, J. (2018). Perubahan Sosial dalam Struktur Adat Mandailing di Era Modern. Jakarta: Lembaga Antropologi Indonesia Press.

Tanjung, R. (2020). Identitas Budaya Mandailing di Tengah Arus Modernisasi. Medan: Universitas Sumatera Utara Press.

Zulkarnain. (2019). Peran Namora Natoras dalam Pelestarian Adat Mandailing. Padangsidimpuan: Mandailing Cultural Institute.

Downloads

Published

2026-06-28

How to Cite

Sistem Kekerabatan dan Peranannya dalam Struktur Sosial Masyarakat Mandailing. (2026). Advances In Education Journal , 2(6), 637-643. https://journal.al-afif.org/index.php/aej/article/view/1144

Similar Articles

81-90 of 121

You may also start an advanced similarity search for this article.